Home / Pengadilan/Tipikor / Terkait Sidang Limbah B3, Pegacara Terdakwa Mengajukan Pledoi
Suasana sidang

Terkait Sidang Limbah B3, Pegacara Terdakwa Mengajukan Pledoi

M.M.Samuel Ngefak, SH

SALATIGA, TEROPONG – SENIN (11 Nopember 2019) berlangsung sidang perkara pidana No. 115/Pid.B/LH/2019/PN.Slt tentang pengelolaan limbah B3 RSUD Kota Salatiga secara ilegal dengan agenda pembacaan nota pembelaan/pledoi dari kuasa hukum terdakwa Dardiri, Advokat M.M Samuel Ngefak SH dan Advokat Lodewyk Rumangun SH, atas surat dakwaan dan surat tuntutan jaksa penuntut umum (JPU).

Menurut Penasihat hukum, pembelaannya tersebut didasarkan kepada fakta   persidangan. “Kami tidak sependapat dengan Saudara Jaksa Penuntut Umum yang dalam surat tuntutannya mengatakan Saudara Terdakwa telah terbukti bersalah dan meyakinkan melakukan tindak pidana melakukan pengelolaan limbah B3 tanpa izin sebagaimana dakwaan pasal 102 jo pasal 59 ayat 4 UU No. 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup jo pasal 64 ayat (1) KUHP. Alasan   kami  tidak sependapat dengan Saudara Jaksa Penuntut  Umum adalah yang menjadi bukti dalam perkara ini adalah barang yang disebut dapat dikategorikan limbah B3 milik penghasil limbah yaitu RSUD Salatiga dan dalam perkara ini disita oleh pihak berwajib dari rumah kediaman milik Saksi Suprihatin Binti (Alm) Slamet Sunarto dan Saksi Somiyah Binti (Alm) Muhamad Rabani masih berbentuk utuh berupa botol bekas infus dan jerigen dan berupa potongan botol bekas infus. Bahwa menurut keterangan ahli yang diajukan Saudara Jaksa Penuntut Umum, untuk dapat meyakinkan bahwa suatu barang dapat dikategorikan limbah jenis apa harus melalui uji laboratorium dan dari uji laboratunum tersebut dapat ditentukan apakah barang tersebut adalah limbah B3.

Bahwa atas dasar hal-hal tersebut kami beranggapan Saudara Jaksa Penuntut Umum belum membuktikan secara meyakinkan bahwa barang bukti adalah limbah B3 dengan kategori apa”.

Kemudian keterangan Saksi dr Sri Pamuji Eko Sudarko MKes Bin (Alm) Zaenai Yasin yang menjabat Direktur RSUD Salatiga saat ini, pada intinya menerangkan bahwa barang bukti berupa botol bekas infus dan jerigen itu memang benar milik dari RSUD Salatiga tapi saksi tidak mengetahui adanya jual-beli barang tersebut kepada pihak lain.

Bahwa saksi meyakini tidak pernah mengijinkan kepada siapa pun secara lisan maupun tulisan untuk menjual barang tersebut. Mengenai limbah B3 RSUD Salatiga, saksi mengaku bekerjasama dengan pihak ketiga untuk mengelola kerjasama tersebut ditandai dengan MoU yang ditandatangani saksi sebagai Direktur RSUD dengan PT Sarana Patra Jateng.

Bahwa pengelolaan limbah B3 RSUD Salatiga telah dianggarkan oleh pemerintah dan anggaran tersebut diperuntukkan kepada pihak ketiga yang mengelola limbah tersebut.

“Kami ingin mengutip adagium hukum yang terkenal yaitu ‘lebih baik membebaskan 1.000 orang yang bersalah daripada menghukum 1 orang yang tidak bersalah’. Maka, kami memohon agar kiranya Yang Terhormat Majelis Hakim memberi vonis/putusan:

1) Menyatakan Terdakwa Muh Achmad Dardiri Bin (Alm) Harun Rosjid tidak terbukti sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana pengelolaan limbah B3 tanpa izin sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 102 jo pasal 59 ayat 4 UU No. 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup jo pasal 64 ayat (1) KUHP.

2) Membebankan biaya perkara kepada negara. Atau, memberikan putusan yang dianggap adil dan bijaksana”.

Ditempat terpisah, Advokat M.M Samuel Ngefak SH saat dikonfirmasi Wartawan mengatakan, bahwa yang dipertanyakan sampai saat ini adalah Direktur RSUD Salatiga mengaku sudah mengetahui barang berupa jerigen bekas cuci darah dan botol infus hilang tapi apa dia sudah lapor ke polisi atas kehilangan barang tersebut. (sasmita)

 

Beri Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

x

Baca Juga

Kuasa Hukum PT Kasih Jatim, Sudiman Sidabukke SH: “Tanah Itu Sudah Menjadi Hak Milik Klien Saya dan Terbit Sertifikat Tahun 1997”

Sidoarjo, Teropong – Pasca pemasangan spanduk dan banner di areal tanah seluas sekitar 29 hektare ...